Tabe’ Warga Respon! Coba cek timeline Instagram atau TikTok Anda pagi tadi. Berapa banyak teman Anda yang mendadak mengunggah foto rute lari, lengkap dengan angka pace (kecepatan) dan latar belakang Masjid 99 Kubah di CPI? Ya, Anda tidak sendirian.

​Makassar saat ini sedang dilanda demam yang cukup positif (tapi sedikit menguras dompet): Demam Lari.

Jalanan dari Pantai Losari, kawasan Center Point of Indonesia (CPI), hingga Boulevard Panakkukang kini bukan cuma jadi jalur kendaraan, tapi sudah berubah fungsi menjadi catwalk akhir pekan para pelari. Pertanyaannya, apakah ini murni kebangkitan kesadaran hidup sehat warga Makassar, atau sekadar FOMO (Fear of Missing Out) demi konten?

​Mari kita bedah fenomena ini.

Starter Pack Pelari “Skena” Lari dulu adalah olahraga paling murah cukup modal kaus oblong dan sepatu kets lawas. Tapi sekarang? Lari adalah sebuah lifestyle. Kalau kamu mau diakui di sirkuit Fun Run lokal, ini starter pack yang seolah jadi wajib:

Sepatu Lari : Warnanya harus menyala. Harganya? Terkadang bisa menyamai UMR Kota Makassar.

​Kacamata Hitam Sporty : Tetap dipakai meskipun matahari di Pantai Losari baru seukuran koin atau cuaca sedang mendung.

​Jam Tangan Pintar (Smartwatch): Karena kalau kamu lari 5 kilometer tapi aplikasinya tidak menyala untuk dipamerkan di media sosial, apakah lari itu benar-benar terjadi?

​Jersey Komunitas: Warnanya senada, bahannya dry-fit, dan tentu saja desainnya harus terlihat edgy di depan kamera.

Dari data lapangan (alias pantauan warga sekitar), banyak Fun Run atau acara lari santai yang pesertanya lebih banyak berhenti untuk berfoto daripada memompa detak jantung. Para fotografer jalanan kini menjamur di rute-rute lari populer. Para pelari rela membayar Rp20.000 hingga Rp50.000 untuk menebus foto candid mereka yang sedang berlari bak atlet profesional.

Realita Post-Run (Setelah Lari) Ini bagian yang paling “Makassar banget”. Di kota lain, pelari mungkin minum protein shake atau makan salad setelah berkeringat. Di sini? Kalori yang terbakar sejauh 5 kilometer langsung digantikan dengan nongkrong di Warkop, makan Coto, atau semangkuk Pallubasa lengkap dengan telur setengah matang (alas). Kalori masuk jelas lebih besar daripada kalori keluar.

​Fenomena ini sebenarnya adalah kabar sangat baik. Terlepas dari niatnya murni untuk sehat, sekadar ikut tren, atau demi eksistensi di media sosial, setidaknya warga Makassar mulai bergerak dari tempat tidurnya di akhir pekan.

​Selain itu, roda ekonomi lokal ikut berputar! Toko perlengkapan olahraga laris, fotografer jalanan dapat cuan tambahan, dan warkop-warkop lokal panen pembeli di pagi hari.

​Saran Ruang Warga: Lari itu gratis, pamer outfit yang bayar. Tetaplah berlari sesuai isi dompetmu. Kalau belum mampu beli sepatu jutaan, sepatu diskonan di mal pun tetap bisa membawamu sampai ke garis finish. Sampai jumpa di rute lari minggu depan!