MAKASSAR, RESPON INFO – Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar memicu antrean panjang kendaraan berat di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Ratusan sopir truk dan bus terpaksa tertahan berjam-jam demi mendapatkan pasokan bahan bakar untuk operasional mereka.

Pemandangan ini salah satunya terpantau di SPBU Pertamina 74.902.88 yang terletak di depan Pintu II Universitas Hasanuddin (Unhas), Jalan Perintis Kemerdekaan, Kecamatan Tamalanrea, pada Rabu (10/6/2026). Hingga pukul 12.00 WITA, puluhan kendaraan berat yang didominasi oleh truk dan bus angkutan antarkota tampak mengular menunggu giliran pengisian.

Kondisi kelangkaan pasokan ini membuat para sopir mengeluh karena waktu operasional mereka banyak tersita di jalan. Salah seorang sopir bus rute Makassar-Malili, Undi (35), mengaku sudah memarkir kendaraannya di lokasi sejak pagi buta.

“Saya antre di sini dari jam setengah 7 (06.30 WITA), sudah tiga jam lebih. Sampai sekarang belum dapat giliran juga,” keluh Undi saat ditemui di sela-sela antrean.

Undi menjelaskan, dirinya baru saja tiba dari Malili dan harus segera kembali mengantar penumpang. Namun, ketiadaan solar di banyak tempat membuatnya terjebak. Menurutnya, kelangkaan ini tidak hanya terjadi di Makassar, melainkan juga merata hingga ke wilayah Kabupaten Maros dan sekitarnya.

“Sama saja, tidak ada solar. Biar di daerah juga kosong. Malah kalau di Maros, jeriken yang lebih diutamakan. Di sini (Makassar) untungnya masih mengutamakan truk sama bus, tidak ada yang pakai jeriken,” tuturnya.

Dampak dari antrean panjang ini pun berimbas langsung pada pelayanan. Undi menuturkan bahwa para penumpang sering kali protes karena jadwal keberangkatan yang molor drastis. “Kalau bisa pemerintah atau pihak terkait segera perbaiki pasokannya.

Siksaki kalau begini terus. Penumpang juga marah-marah karena menunggu lama, jadwal terhambat. Kita ini sopir mau makan apa kalau waktu habis di jalan,” harapnya. Ia menambahkan, untuk satu kali perjalanan pulang-pergi, busnya membutuhkan sekitar 100 hingga 200 liter solar.

Keluhan serupa juga disuarakan oleh Daeng Rate (50), seorang sopir truk yang hendak memuat barang menuju kawasan Parangloe. Ia mengaku sudah berkeliling mencari solar di SPBU lain namun hasilnya nihil.

“Sudah lama antre di sini. Tadi dari sana, masuk dari arah BTP sudah parkir, baku lomba-lomba masuk antrean. Di SPBU lain juga sama, kosong. Saya rencana mau muat barang ke Parangloe, tapi ya terpaksa harus isi solar dulu di sini,” tutup Daeng Rate pasrah.

Kelangkaan BBM jenis solar yang terus berulang ini diharapkan segera mendapat perhatian serius dari pihak Pertamina dan pemerintah daerah, mengingat fungsinya yang sangat vital sebagai urat nadi logistik dan transportasi publik di Sulawesi Selatan.