responcom.id – Panasnya aspal Kota Makassar pernah menjadi saksi bisu perjuangan seorang mahasiswa Teknik Kimia Universitas Muslim Indonesia (UMI). Demi menyambung hidup dan membiayai kuliah, pemuda itu rela menyusuri lorong demi lorong, dari rumah ke rumah, hanya untuk menjajakan koran.

​Tidak ada kemewahan apalagi fasilitas kekuasaan. Baginya saat itu, yang terpenting adalah bagaimana perut tetap terisi dan cita-cita meraih gelar sarjana tidak terhenti di tengah jalan.

​Kini, loper koran itu dikenal luas sebagai Dr. Ir. H. Ruksamin, S.T., M.Si., IPU., ASEAN Eng.

​Sosoknya bukan lagi sekadar pemuda desa dari keluarga petani yang kesulitan biaya. Ruksamin baru saja menuntaskan pengabdian besarnya sebagai Bupati Konawe Utara selama dua periode (2016–2025).

​Karir politiknya pun terus meroket. Pada tahun 2026 ini, ia resmi mengemban amanah bergengsi di kancah nasional sebagai Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Partai Bulan Bintang (PBB).

​Perjalanan karir Ruksamin terbilang panjang dan berliku. Lulus S1 Teknik Kimia UMI pada 1997, ia sempat mengabdi sebagai guru SMA di Wawotobi pada tahun 2000.

​Dari ruang kelas, ia melangkah ke gedung parlemen. Dimulai dari Anggota DPRD Konawe pada 2004, karirnya melesat cepat menjadi Ketua DPRD, Wakil Bupati, hingga akhirnya memegang tongkat komando tertinggi di Konawe Utara.

​Meski sibuk memimpin daerah kaya tambang, haus ilmunya tak pernah padam. Ia sukses memadukan ilmu teknik dan tata kelola pemerintahan dengan meraih gelar Doktor Administrasi Publik dari Universitas Diponegoro pada 2015.

​Menariknya, dua puluh tahun usai lulus sarjana, Ruksamin kembali memijakkan kaki di almamaternya. Bukan sebagai pejabat, melainkan sebagai mahasiswa angkatan pertama Program Profesi Insinyur (PPI) UMI pada 2017.

​Kapasitas teknisnya kini diakui hingga level internasional. Ia menyandang status Insinyur Profesional Utama (IPU) dan diakui secara global sebagai ASEAN Engineer.

​Jejak langkah Ruksamin membuktikan satu hal penting: pendidikan mungkin tidak selalu bisa langsung mengubah dunia. Namun, pendidikan mampu mengubah hidup satu orang, untuk kemudian memberikan kesempatan baginya mengubah kehidupan jutaan orang lainnya.