responcom.id – Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Kalimantan Tengah (Kalteng) memanggil kepedulian dari kalangan akademisi. Tak sekadar berteori di kampus, para mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Palangka Raya memilih turun langsung ke lokasi titik api untuk membantu upaya pemadaman.
Keterlibatan nyata para pahlawan tanpa tanda jasa ini diwujudkan melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM). Aksi peduli lingkungan tersebut dipusatkan di kawasan rawan Karhutla, yakni Mahir Mahar dan Pasir Panjang, pada Minggu (23/8/2026).
Di tengah kepungan asap dan medan lahan yang terbakar, para mahasiswa bahu-membahu bersama tim gabungan dan warga setempat untuk memblokade pergerakan api agar tidak semakin meluas. Seluruh aksi di lapangan dilakukan dengan tetap berkoordinasi secara ketat dengan petugas berwenang guna menjaga keselamatan.
Tak hanya mengandalkan tenaga fisik untuk memadamkan api, para mahasiswa PKM ini juga berinteraksi langsung dengan warga sekitar. Mereka memberikan sosialisasi dan edukasi mengenai bahaya Karhutla dari sisi kesehatan dan lingkungan, serta pentingnya langkah mitigasi mandiri untuk mencegah munculnya titik api baru.
Langkah preventif ini diharapkan mampu memperkuat kepedulian dan kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan di wilayah Kalimantan Tengah.
Rektor UIN Palangka Raya merespons positif dedikasi para mahasiswanya. Menurutnya, terjun ke lokasi bencana adalah bentuk paling konkret dari pengabdian perguruan tinggi kepada masyarakat yang sedang dilanda kesulitan.
“Mahasiswa tidak cukup hanya belajar di dalam ruang kelas, tetapi juga harus mampu hadir dan memberikan manfaat ketika masyarakat menghadapi persoalan. Dalam kondisi karhutla seperti saat ini, mahasiswa dapat mengambil peran melalui edukasi, sosialisasi, dan keterlibatan langsung di lapangan,” ungkap Rektor.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa persoalan Karhutla tidak bisa dipikul oleh segelintir pihak saja. Kolaborasi lintas sektor yang kuat antara pemerintah, masyarakat, petugas terkait, dan sivitas akademika dinilai sebagai kunci utama untuk mencegah musibah tahunan ini terus berulang.

Tinggalkan Balasan