SINJAI, responcom.id – Pemandangan klasik mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang hanya sibuk mengecat pagar atau membuat plang nama jalan, perlahan mulai ditinggalkan. Di Kabupaten Sinjai, sekumpulan agen perubahan dari jas merah Universitas Hasanuddin (Unhas) membuktikan bahwa pengabdian sejati adalah membangun manusia, bukan sekadar fisik.

​Mahasiswa KKN Tematik Pemberdayaan Desa Gelombang 116 Unhas baru saja melahirkan sebuah terobosan progresif. Mereka sukses membentuk sekaligus melantik pengurus komunitas kepemudaan bernama ‘WANUATA’ di Aula Kantor Desa Lamatti Riattang, Kecamatan Bulupoddo, Kabupaten Sinjai, Minggu (26/7/2026).

​Kegiatan ini bukanlah seremonial belaka. Ini adalah implementasi program kerja individu yang dirancang khusus untuk memecahkan kebekuan partisipasi pemuda dalam pembangunan desa.

Sosok di balik layar pembentukan komunitas ini adalah Imam Ramadhan, mahasiswa Program Studi Antropologi Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unhas, yang juga bertindak sebagai Koordinator Desa.

​Imam tidak bekerja dengan asumsi kosong. Pembentukan Komunitas WANUATA’ digagas usai timnya melakukan observasi lapangan yang mendalam untuk memetakan potensi sekaligus penyakit sosial yang menghambat laju kepemudaan di Desa Lamatti Riattang.

​”Komunitas WANUATA’ kami hadirkan sebagai ruang kolaborasi. Pemuda desa harus memiliki motor penggerak untuk kegiatan sosial dan pemberdayaan masyarakat,” papar Imam Ramadhan.

Ketua Komunitas WANUATA’ yang baru saja dilantik, Ari Sandi, membongkar filosofi mendalam di balik nama kelompoknya. Nama tersebut lahir dari rahim musyawarah warga.

​Secara harfiah, kata Wanua berarti kampung atau desa, sedangkan Ta bermakna milik kita. “Filosofi ini mencerminkan semangat kolektif. Desa ini adalah milik kita bersama, maka pemuda harus menjadi garda terdepan untuk kemajuannya,” tegas Ari.

​Ia pun langsung memberikan instruksi kepada jajaran pengurusnya agar menjaga napas organisasi ini agar tidak sekadar numpang lewat.

Langkah taktis mahasiswa KKN ini mendapat lampu hijau dan apresiasi penuh dari pemangku kebijakan setempat. Kepala Desa Lamatti Riattang, Nasrullah, S.Sos., menilai inisiatif ini sangat strategis.

​”Ini adalah jembatan sinergi antara pemuda dan pemerintah desa. Kami di pemerintahan siap menyokong agar komunitas ini berkelanjutan dan menjadi mitra utama program pemberdayaan,” ungkap Nasrullah.

​Dukungan serupa mengalir dari tokoh agama Desa Lamatti Riattang, Abd. Karim C. Ia mengingatkan bahwa krisis karakter di kalangan anak muda harus ditangkal melalui wadah yang positif.

​”Pemuda adalah pewaris takhta pembangunan desa. Saya berharap WANUATA’ bisa menanamkan nilai tanggung jawab dan kepedulian sosial yang belakangan mulai luntur,” pesannya.

Pekerjaan rumah terbesar kini berada di pundak pemuda Desa Lamatti Riattang dan pemerintah desa setempat. Seringkali, program yang diinisiasi mahasiswa KKN layu sebelum berkembang, atau mati suri setelah para mahasiswa ditarik kembali ke kampus.

​”Harapannya, komunitas ini tetap aktif, mandiri, dan terus berkembang meskipun masa KKN kami telah berakhir nanti,” pungkas Imam Ramadhan.

​Bagi publik, ini adalah ujian komitmen bagi Pemerintah Desa Lamatti Riattang. Bibit pemberdayaan telah ditanam oleh mahasiswa Unhas, kini giliran masyarakat dan pemerintah desa yang harus merawatnya agar tumbuh menjadi pohon kemajuan.