BALIKPAPAN, responcom.id – Dunia pendidikan kembali tercoreng oleh aksi premanisme. Niat hati menjalankan tanggung jawab moral sebagai pendidik, seorang guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) di sebuah SD di Balikpapan Timur justru menjadi korban kebrutalan.
Guru berinisial MA (31) tersebut babak belur usai dikeroyok oleh sekelompok siswa SMK beserta keluarganya. Peristiwa memilukan ini terjadi tepat di depan rumah korban di Jalan Lapangan Tembak Lambada RT 33, Kelurahan Teritip, Kecamatan Balikpapan Timur, pada Selasa (21/7/2026) siang.
Ironisnya, pemicu pengeroyokan ini berawal dari hal yang seharusnya menjadi tugas seorang pendidik: menegur pelajar yang melanggar aturan.
Kapolresta Balikpapan, Kombes Pol Jerrold HY Kumontoy, melalui Kapolsek Balikpapan Timur, AKP M. Chusen, membeberkan kronologi insiden tersebut. Kejadian bermula saat korban MA melintas di kawasan Jalan Mulawarman, Kelurahan Teritip.
Di sana, korban melihat seorang pelajar SMK tengah mengendarai sepeda motor sambil asyik mengisap rokok. Yang membuat miris, seragam sekolah kebanggaan masih melekat di badan pelajar tersebut.
Merasa memiliki tanggung jawab moral, MA kemudian menegur sang siswa secara lisan agar mematikan rokoknya. Namun, alih-alih sadar, teguran itu justru dibalas dengan arogansi.
”Kenapa kamu tegur saya? Orang tua saya saja tidak pernah marahi saya,” ujar siswa tersebut dengan nada menantang, seperti ditirukan oleh AKP M. Chusen berdasarkan keterangan saksi.
Tidak ingin memperpanjang perdebatan di pinggir jalan yang mulai memancing perhatian warga, korban MA memilih mengalah dan pergi meninggalkan lokasi menuju rumahnya.
Namun, persoalan rupanya belum usai bagi sang pelajar. Menyimpan dendam, siswa tersebut mengadu kepada keluarganya dengan memutarbalikkan fakta. Ia memfitnah bahwa dirinya telah dipukul oleh korban.
Tak berselang lama, korban yang sudah berada di rumahnya tiba-tiba didatangi oleh rombongan yang terdiri dari tiga orang siswa, orang tua salah satu siswa, serta paman dari siswa tersebut.
Di depan rumahnya sendiri, MA mencoba melakukan mediasi. Ia berupaya menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan, mengklarifikasi bahwa ia murni hanya menegur masalah rokok, tanpa ada aksi pemukulan sama sekali.
Sayangnya, klarifikasi tersebut tak digubris. Situasi kian memanas saat salah satu siswa memprovokasi dengan ucapan, “Banyak betul omonganmu.”
Kalimat provokatif itulah yang menjadi pemicu aksi main hakim sendiri. Paman sang siswa langsung melayangkan pukulan pertama ke wajah korban, yang kemudian diikuti secara brutal oleh tiga siswa lainnya. Sang guru tak berdaya menghadapi pengeroyokan sedikitnya empat orang secara bersamaan.
Dalam unggahan tersebut, terlihat kerumunan warga dan sepeda motor memadati jalan permukiman. Foto lain yang beredar memperlihatkan kondisi korban yang sangat mengenaskan—mengalami luka robek memanjang dari dahi hingga pangkal hidung dengan darah segar yang terus mengucur.
Lebih menyayat hati, dalam rekaman tersebut tampak seorang perempuan yang berusaha sekuat tenaga melerai pengeroyokan. AKP M. Chusen mengonfirmasi bahwa perempuan itu adalah istri korban berinisial RL, yang juga berprofesi sebagai guru Sosiologi di salah satu SMA di Balikpapan.
Tidak terima dengan perlakuan premanisme tersebut, korban MA langsung melakukan visum dan melaporkan kejadian ini ke Polsek Balikpapan Timur. Pihak kepolisian bergerak cepat melakukan Pengumpulan Bahan Keterangan (Pulbaket).
”Penyidik telah mengantongi identitas salah satu terduga pelaku, yakni seorang pelajar berinisial F. Untuk identitas terduga pelaku lainnya, masih dalam proses pendalaman. Laporan telah kami terima dan kami tindak lanjuti,” pungkas Chusen dengan tegas.
Tindakan main hakim sendiri terhadap seorang guru jelas tidak bisa dibenarkan dengan alasan apa pun. Kejadian ini menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan dan pola asuh orang tua. Hukum harus ditegakkan dengan seadil-adilnya agar kejadian serupa tak lagi terulang di kemudian hari.

Tinggalkan Balasan