responcom.id- Keresahan melihat keindahan alam yang dirusak oleh sampah sering kali hanya berhenti pada keluhan semata. Namun, bagi seorang perempuan asal Kabupaten Soppeng bernama Cantika, rasa resah itu harus dijawab dengan aksi nyata. Merelakan waktu istirahatnya, ia memelopori gerakan memungut sampah di kawasan Waduk Ompo, sebuah langkah kecil yang perlahan mulai menyalakan semangat kepedulian di sekitarnya.

​Pada awalnya, Cantika memang bergerak murni seorang diri menyusuri area waduk tersebut. Namun, niat tulus rupanya dengan mudah menular. Belakangan, langkah sunyi itu tak lagi sendirian.

Sebuah potret hangat menangkap momen ketika Cantika kini ditemani oleh sejumlah perempuan muda lainnya yang tergerak untuk membantu. Dengan mengenakan sarung tangan pelindung, mereka tampak tersenyum bangga berpose di bawah rimbunnya pohon besar, mengelilingi belasan kantong plastik merah dan karung goni yang terisi penuh oleh sampah hasil jerih payah mereka membersihkan area waduk.

​Bagi sebagian orang, memunguti sampah yang bukan miliknya mungkin dianggap sebagai pekerjaan melelahkan. Namun bagi Cantika dan kawan-kawannya, ini adalah panggilan hati. Setiap pagi, mereka menyusuri area waduk untuk melepas penat sekaligus membersihkan sampah yang berserakan.

Temuannya pun beragam dan kadang miris. Mulai dari puntung rokok, bungkus makanan, botol minuman, popok, pembalut, hingga yang paling memprihatinkan: tumpukan plastik bekas isapan lem. Seluruh sampah tersebut dikumpulkan dan diangkut menjauh agar Waduk Ompo bisa kembali bernapas lega.

Kepada responcom.id, Cantika menuturkan bahwa inisiatif ini murni lahir dari keresahan batin yang sudah menumpuk sejak lama. Sebagai perempuan yang hobi traveling dan menyatu dengan alam, ia kerap dihadapkan pada realita pahit di berbagai pelosok Sulawesi.

​”Sangat disayangkan alam yang secantik itu menjadi rusak karena ulah berbagai oknum yang tidak bertanggung jawab. Jadi alasan utamanya karena sedih dan resah, Kak,” ungkap Cantika.

​”Sedih melihat alam yang semakin hari semakin rusak, resah karena pada kenyataannya sampai sekarang tidak ada tangan yang bergerak untuk memperbaiki kerusakan itu. Merasa lelah menunggu keadaan yang tidak pernah ada perubahan, akhirnya saya coba untuk turun sendiri,” ceritanya lebih lanjut.

​Pemilihan Waduk Ompo sebagai titik mula aksi clean up ini bukanlah tanpa alasan. Bagi Cantika, kawasan tersebut sejatinya adalah tempat yang sangat indah, sejuk, dan asri. Sayangnya, memori indah itu perlahan terkikis oleh tumpukan limbah.

​”Setelah beberapa waktu terakhir saya datang, kondisinya sangat butuh perhatian. Tempat yang dulu asri sekarang berubah jadi timbunan sampah yang berserakan. Padahal waduk ini jelas fasilitas yang sangat penting, tapi sayangnya banyak oknum tidak bertanggung jawab yang merusak tempat ini,” keluhnya.

Meski demikian, aksi yang bermula dari langkah kecil ini diharapkan mampu membawa dampak besar. Cantika merawat harapan agar kegiatannya tidak hanya memulihkan kondisi lingkungan secara fisik, tetapi juga mampu mengetuk kesadaran dan mengubah pola pikir masyarakat agar lebih peduli terhadap kelestarian alam.

​Cantika juga menegaskan bahwa gerakan ramah lingkungan ini tidak akan berhenti di sini. “Insyaallah, kegiatan clean up ini tidak hanya berhenti sampai di Waduk Ompo saja, namun bisa menjangkau lokasi lain yang butuh dibersihkan,” tegasnya.

​Di akhir perbincangan, ia menyadari bahwa pahlawan lingkungan sejati adalah kerja sama komunitas. Gerakan ini membutuhkan sinergi dan kolaborasi dari masyarakat sekitar agar hasilnya bisa dirasakan dalam jangka panjang.

​”Kami butuh kolaborasi yang baik dengan masyarakat juga. Yaitu dengan kami membersihkan sisa sampah yang ada, dan masyarakat membantu dengan tidak membuang sampah lagi di sembarang tempat,” pungkas Cantika penuh harap.

​Bagi warga Soppeng yang hatinya tergerak untuk ikut berkontribusi, Cantika membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya. Anda bisa menghubunginya melalui pesan langsung di akun TikTok pribadinya. Sebuah langkah kecil yang membuktikan bahwa satu aksi nyata jauh lebih berharga daripada seribu keluhan.