responcom.id- Taman Tematik Bambu Runcing di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) tak lagi sekadar menjadi ruang terbuka untuk sekadar melepas penat atau tempat berkumpul menghabiskan sore. Di salah satu sudutnya, buku-buku kini tergelar rapi, memanggil siapa saja untuk singgah, membalik halaman, dan menyelami gagasan.

​Pemandangan ini adalah buah dari inisiatif bernama Perpustakaan Pinggiran Pangkep. Gerakan ini tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dari sebuah keresahan panjang: minimnya kegiatan berbasis diskursus dan ruang bertukar aspirasi di Pangkep. Keresahan itulah yang memantik Muh. Fiqry Marsekal, seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Islam Makassar (UIM), untuk turun tangan langsung menabur benih-benih literasi di sudut-sudut kota.

Melalui kegiatan bertajuk “Lapak Baca”, Fiqry dan kawan-kawan mencoba mendobrak kekakuan. Mereka mengubah taman kota yang ramai menjadi ruang perjumpaan yang inklusif dan santai. Di sana, masyarakat khususnya pemuda dan pelajar tidak hanya diajak untuk sekadar membaca, tetapi juga membuka ruang dialektika, bertukar pikiran, dan membangun kesadaran sosial.

Meski koleksi bahan bacaan yang disuguhkan saat ini masih terbilang sangat terbatas, antusiasme untuk menghadirkan akses pengetahuan secara gratis patut diapresiasi.

​Bagi Fiqry, akses terhadap buku dan pengetahuan tidak semestinya terpenjara di balik tembok-tembok perpustakaan formal yang kadang terasa kaku dan eksklusif. Lapak baca di ruang publik adalah ikhtiar nyata untuk mendekatkan buku ke urat nadi masyarakat, menjadikan aktivitas membaca sebagai kelaziman sehari-hari, bukan sekadar tugas akademik.

​“Kegiatan ini bukan sekadar mengajak masyarakat untuk membaca buku, tetapi juga berupaya menciptakan ruang perjumpaan. Dari buku, kita membaca dunia; dari ruang bersama, kita belajar memahami masyarakat,” tutur Fiqry yang menjadi motor penggerak gerakan ini.

Pemilihan Taman Tematik Bambu Runcing juga bukan tanpa alasan. Membawa buku ke tengah hiruk-pikuk kota memberikan pengalaman yang berbeda. Ruang publik direbut kembali fungsinya secara utuh; bukan sebatas tempat rekreasi, melainkan rahim bagi tumbuhnya ruang belajar komunal dan pemikiran kritis.

​Kehadiran Perpustakaan Pinggiran Pangkep membawa harapan besar bagi masa depan literasi di daerah ini. Lebih dari sekadar merangkai kata demi kata dari lembar buku, gerakan ini memupuk kebiasaan berpikir analitis dan keberanian untuk berkontribusi bagi lingkungan sosial.

​Dengan napas konsistensi, lapak baca ini dicita-citakan akan terus bergerilya dari satu ruang publik ke ruang publik lainnya di Pangkep. Harapannya jelas: agar membaca tak lagi dilihat sebagai kemewahan yang eksklusif, melainkan sebuah gerakan bersama untuk merawat nalar masyarakat yang berpengetahuan.