responcom.id- Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, bersiap menjadi salah satu pusat pengembangan peternakan nasional. Rencana pembangunan proyek Hilirisasi Ayam Terintegrasi (HAT) di wilayah ini mulai memasuki tahapan strategis guna memperkuat rantai pasok protein hewani di Indonesia.

​General Manager Corporate Secretary and Corporate Social Responsibility PT Berdikari, A.S. Hasbi Al Islahi, mengungkapkan bahwa nilai investasi tahap awal untuk pembangunan sarana HAT di Bone mencapai angka Rp627 miliar.

​Investasi bernilai fantastis tersebut akan dialokasikan untuk membangun tiga unit bisnis utama. Pertama, fasilitas farm Parent Stock (PS) atau peternakan indukan dengan kapasitas 168.000 ekor. Kedua, feed mill atau pabrik pakan dengan kapasitas produksi 10.000 ton per bulan. Ketiga, fasilitas hatchery (penetasan) berkapasitas 500.000 ekor per minggu.

Menurut Hasbi, pembangunan di Bone merupakan bagian integral dari peta jalan investasi HAT secara nasional yang total nilainya diperkirakan menembus Rp18 triliun.

​Untuk tahap pertama, pemerintah telah menyiapkan dana sekitar Rp2,3 triliun yang disebar ke sejumlah wilayah, yakni Bone, Nusa Tenggara Barat (NTB), Malang, Lampung, dan Gorontalo. Dari total dana tahap pertama tersebut, porsi investasi yang masuk ke Kabupaten Bone mencapai hampir 27 persen.

​Hasbi menekankan, megaproyek ini harus dijalankan dengan pendekatan bisnis yang berkelanjutan dan terukur.

​“Pembangunan ini tidak sekadar project semata, project unggulan Kementan, bukan. Tetapi ini masuk ke pendekatan business approach,” tegas Hasbi, dilansir dari laporan RRI, Senin (24/8/2026).

Rantai bisnis terintegrasi ini dirancang agar tidak berhenti pada level produksi indukan, pakan, atau anak ayam semata. Ekosistem tersebut akan terus dikembangkan hingga mampu menghasilkan produk hilir bernilai tambah tinggi, seperti karkas dan makanan olahan berbasis ayam siap saji.

​Kehadiran proyek ini diproyeksikan akan menciptakan roda perputaran ekonomi baru bagi Kabupaten Bone. Sektor pendukung seperti pemasok pakan, jasa logistik, penyerapan tenaga kerja lokal, hingga industri pengolahan skala menengah diyakini akan ikut terdongkrak.

​Ke depannya, sinergi antara pemerintah daerah dan pelaksana proyek sangat dibutuhkan untuk memastikan kelancaran teknis di lapangan. Kepastian jadwal pembangunan, kesiapan infrastruktur lahan, serta keterlibatan aktif para peternak lokal menjadi kunci utama agar manfaat ekonomi dari investasi Rp627 miliar ini benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas.