Jakarta, responcom.id – Kepungan kabut asap pekat akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) nyaris melumpuhkan denyut aktivitas warga di sejumlah wilayah Kalimantan. Jarak pandang yang anjlok drastis hingga tersisa 10 meter tidak hanya mengacaukan jalur transportasi darat dan udara, tetapi juga memaksa sekolah-sekolah ditutup serta memicu ancaman krisis Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Melihat kondisi yang semakin tak terkendali dan merusak ekosistem ini, Pemerintah didesak untuk segera menetapkan status darurat Karhutla di Kalimantan sebagai Bencana Nasional.
”Kalimantan sudah seperti setengah ‘neraka’ sekarang karena Karhutla yang semakin parah. Pemerintah perlu menetapkan status Karhutla di Kalimantan sebagai bencana nasional karena dampaknya sangat signifikan,” tegas Anggota Komisi IV DPR RI, Daniel Johan, menyoroti krisis tersebut, Jumat (21/8/2026).
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), titik panas (hotspot) terus menyebar liar. Konsentrasi titik api tertinggi saat ini berada di Kalimantan Tengah dengan 767 titik, disusul Kalimantan Barat (560 titik), Kalimantan Selatan dan Timur (masing-masing 74 titik), serta Kalimantan Utara (3 titik).
Polusi udara ekstrem ini bahkan telah memicu peringatan lintas negara. Ratusan sekolah di Malaysia dilaporkan tutup sementara akibat paparan kabut asap yang terbawa angin, sementara Singapura telah mengeluarkan peringatan dini bagi warganya.
“Ketika titik panas sudah terkonsentrasi dalam jumlah besar di Kalimantan, setiap hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi harus segera diterjemahkan menjadi daftar lokasi prioritas yang wajib diverifikasi dan ditangani di lapangan dalam hitungan jam. Jangan hanya menyajikan data pemantauan,” kritik Daniel.
Ia mendorong percepatan operasi pemadaman terpadu, mendesak pengerahan water bombing secara masif dan operasi modifikasi cuaca melalui koordinasi BNPB, BMKG, dan BRIN sebelum kemarau mencapai puncaknya.
Kekecewaan terhadap lambatnya penanganan membuat masyarakat akhirnya turun tangan sendiri. Aksi-aksi warga memadamkan api kini viral di media sosial. Mulai dari remaja 15 tahun bernama Rudiansyah di Palangka Raya yang berjibaku memadamkan api mengenakan kostum Superman, hingga kelompok ibu-ibu tangguh seperti ‘Srikandi’ di Sambas dan ‘The Power of Mama’ di Ketapang.
”Saya kagum sekali, mereka sangat hebat dan berani. Namun, tetap prioritaskan keselamatan diri. Jika berpotensi membahayakan, serahkan kepada petugas,” pesan Daniel mengapresiasi keberanian warga.
Untuk memastikan upaya di lapangan tidak lumpuh karena ketiadaan alat, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) didesak untuk tidak menahan dana operasional penanggulangan Karhutla yang sudah dialokasikan negara.
”Kami mendesak Kementerian Keuangan segera mencairkan anggaran sebesar Rp290,9 miliar untuk operasional pencegahan dan penanggulangan Karhutla. Anggaran ini sangat mendesak agar pemadaman di lapangan tidak terkendala keterbatasan sumber daya,” pungkasnya.
Terkait indikasi pembakaran lahan yang disengaja, aparat penegak hukum diminta bertindak tegas menangkap para pelaku, guna mencegah masyarakat main hakim sendiri akibat amarah dan kekesalan yang memuncak.

Tinggalkan Balasan