BONE, responcom.id – Kawasan pesisir Kajuara, Kabupaten Bone, bersiap menjadi pusat pusaran budaya. Melalui Festival Lampu’ Toae yang resmi ditetapkan sebagai Zona 6 dalam kalender Gau’ Maraja 2026, kearifan lokal masyarakat maritim tidak hanya akan dirayakan, tetapi juga diwariskan secara masif.

​Kesiapan festival ini dimatangkan dalam rapat koordinasi lintas sektor di Kantor Dinas Kebudayaan Kabupaten Bone, Selasa (11/8/2026). Perhelatan ini dimotori oleh komunitas pemerhati seni Sangdara, berkolaborasi dengan pemerintah daerah dan Yayasan Pendidikan Lontara Hijau Foundation.

​Menggeser paradigma festival daerah yang kerap identik dengan tontonan semata, Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Bone, Hj. Andi Murni Al, S.E., M.Hum., menegaskan bahwa Lampu’ Toae dirancang sebagai ruang ekosistem yang hidup.

​”Yang ingin kita bangun adalah ruang kebudayaan yang tumbuh bersama masyarakat. Kajuara memiliki kekayaan budaya dan pengetahuan maritim yang lahir dari hubungan erat mereka dengan lingkungan pesisirnya,” tegas Andi Murni.

​Sejalan dengan itu, Ketua Sangdara, Wiwi Wahyuni, S.Tr.Ab., yang menjadi komandan pelaksana festival ini, memandang Zona 6 sebagai panggung sesungguhnya bagi masyarakat Kajuara untuk bersuara. Interaksi warga dengan alam—mulai dari cara membaca musim, pergerakan angin, hingga pemanfaatan hasil laut—merupakan mahakarya yang harus dilestarikan.

​“Kami merancang agar festival ini benar-benar lahir dari rahim masyarakat Kajuara. Ini bukan sekadar tontonan, melainkan ruang bagi mereka untuk memperlihatkan jati diri dan apa yang kelak mereka wariskan ke generasi berikutnya,” tutur Wiwi.

​Untuk memperkuat fondasi tersebut, keterlibatan Yayasan Pendidikan Lontara Hijau Foundation turut memberi warna baru dengan menyisipkan aspek literasi dan edukasi.

​Dengan menjadikan kawasan pesisir sebagai pusat perayaan, Gau’ Maraja 2026 membuktikan bahwa denyut nadi kebudayaan Bone tidak melulu tersentralisasi di wilayah perkotaan, melainkan mengakar kuat dan hidup dari deburan ombak di pesisir desanya.