FLORES TIMUR, responcom.id – Derasnya arus modernisasi, gempuran teknologi digital, hingga invasi Kecerdasan Buatan (AI) nyatanya belum mampu menggerus akar tradisi di ujung timur Nusa Tenggara.

​Di Kabupaten Flores Timur, tepatnya di Desa Lewokluok, masyarakatnya menolak takluk pada abrasi budaya. Mereka memilih berdiri tegak menjaga warisan leluhur melalui pelaksanaan Ritual Adat Koke Bale.

​Sebuah tradisi yang bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan benteng pertahanan identitas masyarakat di masa kini dan masa depan.

Ritual sakral ini kembali digelar dengan melibatkan berbagai elemen. Pantauan di lokasi, acara ini dihadiri oleh perwakilan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Flores Timur, hierarki Gereja, para tokoh adat Koke Bale, hingga seluruh lapisan masyarakat Lewokluok yang membaur dalam semangat kebersamaan.

Bagi etnis Lamaholot, Koke Bale memiliki dimensi filosofis yang sangat dalam. Ritual ini menjadi medium spiritual untuk menjaga keseimbangan kosmis—memelihara hubungan vertikal manusia dengan Sang Pencipta, serta hubungan horizontal antar-sesama manusia, alam semesta, dan para leluhur.

​Bupati Flores Timur, yang dalam kesempatan ini diwakili oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Heronimus Lamawuran, memberikan pandangan kritisnya terkait eksistensi budaya di era kiwari.

Menurutnya, kemajuan sebuah peradaban tidak diukur semata dari kecanggihan teknologi, melainkan dari seberapa kuat masyarakatnya memegang teguh akar budaya.

​”Setiap bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Masyarakat yang maju adalah mereka yang tidak pernah tercabut dari akar budayanya,” tegas Heronimus di hadapan warga Lewokluok.

​Ia menjabarkan bahwa Koke Bale adalah simbol perekat persatuan. Koke Bale bertransformasi menjadi pusat musyawarah dan ruang spiritual yang napasnya terus berembus di tengah denyut nadi masyarakat.

Pemkab Flores Timur tak menampik bahwa keterbukaan informasi dan teknologi membawa dampak positif yang masif. Namun, pisau bermata dua dari era digital ini juga menghadirkan ancaman peradaban yang tak main-main.

​Mulai berkurangnya penutur bahasa daerah, melemahnya nilai-nilai gotong royong, hingga krisis identitas generasi muda yang perlahan menjauh dari kearifan lokal, adalah tantangan nyata yang harus segera dijawab.

​”Budaya adalah karakter, kekuatan moral, dan sumber inspirasi pembangunan. Kita harus mampu berselancar di atas gelombang perubahan zaman, tanpa sedikit pun kehilangan jati diri,” ingat Heronimus.

Lebih lanjut, Pemkab Flores Timur berjanji untuk menjadikan kebudayaan sebagai pilar utama pembangunan daerah. Tolok ukur keberhasilan pemerintah tidak lagi murni bertumpu pada aspal jalan dan bangunan beton, melainkan kemampuan merawat kearifan lokal.

​Keberhasilan Desa Lewokluok menyabet predikat sebagai salah satu desa wisata budaya unggulan—bahkan diakui sebagai ‘Kampung Adat Terpopuler’—menjadi bukti bahwa nilai-nilai Lamaholot memiliki daya jual dan daya pikat yang luar biasa.

​Tentu, publik berharap janji pemerintah ini tidak berhenti di mimbar pidato. Pemkab dituntut hadir memberikan dukungan infrastruktur dan pendampingan ekonomi kreatif agar pariwisata budaya di Lewokluok benar-benar bermuara pada kesejahteraan warga setempat.

Ke depan, tongkat estafet penjaga peradaban ini berada di tangan anak-anak muda Flores Timur. Mereka ditantang untuk bangga berbahasa daerah dan tak malu memperkenalkan budaya Lamaholot ke kancah global.

​Ritual Koke Bale di Lewokluok telah mengirimkan satu pesan penting untuk Indonesia: Kemajuan zaman dan tradisi leluhur bukanlah dua kutub yang harus saling meniadakan, melainkan dua kekuatan yang bisa berjalan beriringan.