Pangkep,responcom.id – Kepulan asap hitam dari ban bekas yang terbakar membumbung tinggi di persimpangan lampu merah Taman Musafir, Kabupaten Pangkep. Di bawah terik matahari, deretan kendaraan terpaksa mengular panjang hingga melumpuhkan sebagian jalur utama Trans Sulawesi.
Pemandangan pada Senin (14/9/2026) siang itu bukanlah sekadar kemacetan biasa. Ini adalah luapan amarah atas krisis energi yang mencekik napas warga Pangkep beberapa waktu terakhir.
Massa dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Pangkep turun ke jalan. Menjadikan sebuah truk sebagai mimbar orasi, mereka menyuarakan derita rakyat yang lelah dengan listrik byar-pet, langkanya LPG 3 kg, hingga susahnya mencari BBM bersubsidi.
Krisis energi ini tak main-main dampaknya. Dapur rumah tangga menjerit, UMKM merugi akibat alat elektronik rusak, hingga aktivitas transportasi dan warga kepulauan yang nyaris lumpuh.
”Ini adalah aksi memperjuangkan hak masyarakat. Kelangkaan BBM bikin antrean panjang, LPG 3 kg langka dan harganya melonjak, ditambah pemadaman listrik yang bikin usaha kecil rugi,” tegas Ketua PMII Pangkep, Ahmad Ma’ruf di lokasi aksi.
Tak sekadar berteriak, PMII membawa sembilan tuntutan tajam. Sasaran utamanya adalah PLN, Pertamina, dan Pemerintah Kabupaten Pangkep.
Mereka mendesak PLN segera menghentikan pemadaman bergilir dan memberikan kompensasi ganti rugi bagi warga terdampak. Sementara untuk Pertamina dan Pemkab, mahasiswa menuntut operasi pasar masif serta pemerataan BBM bersubsidi.
Bahkan, PMII memberi ultimatum keras. Jika dalam 3×24 jam krisis tak teratasi, pimpinan PLN UID Sulselrabar dan Eksekutif GM Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi didesak untuk dicopot dari jabatannya.
Usai membakar semangat di jalanan, massa bergerak menuju Markas Polres Pangkep. Tujuannya satu: mendesak polisi menyikat habis terduga mafia atau oknum penimbun BBM dan gas subsidi.
”Kami mendesak aparat penegak hukum mengusut tuntas indikasi adanya mafia atau oknum yang bermain-main dalam distribusi energi di Pangkep,” ujar Ma’ruf.
Aksi ini ditutup dengan long march menuju Kantor DPRD Pangkep. Rencananya, PMII akan menggelar audiensi lanjutan untuk memaksa para wakil rakyat segera turun tangan mencari solusi konkret atas krisis energi tersebut.

Tinggalkan Balasan