Pangkep,responcom.id – Pagi belum benar-benar merekah ketika Bapak Haming mulai meninggalkan halaman rumahnya di Kampung Bakka, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Di saat sebagian besar warga masih terlelap dalam dinginnya embun, pria paruh baya ini telah melangkahkan kaki, memulai pertarungan hariannya melawan kerasnya kehidupan.

​Haming bukanlah pria yang menggantungkan nasib pada satu pintu rezeki. Salah satu rutinitas utamanya adalah memanen pinang. Ia memanjat pohon demi pohon, memilih buah yang menguning sempurna, lalu mengumpulkannya ke dalam karung untuk dijual.

​Namun, tantangan sesungguhnya baru dimulai setelah pinang dipanen. Ia harus berjalan kaki sejauh lima kilometer, menelusuri lereng gunung yang menanjak dan membelah rimbunan hutan basah. Sesekali langkahnya terhenti. Beban di pundak diturunkan sejenak, napas dihela panjang, sebelum kakinya kembali diayunkan memangkas jarak.

​Bagi Haming, karung berisi pinang tersebut bukan sekadar barang dagangan, melainkan penyambung napas bagi garapan lainnya.

​“Anne hasil rappo’ku, kubawa mange ri kota ku balukang. Punna laku, doe’na kupake ammalli pupuk pole, kupake ri galungku.”

(Ini hasil pinang saya, saya bawa ke kota untuk dijual. Kalau sudah laku, uangnya saya pakai membeli pupuk lagi untuk digunakan di sawah saya).

​Siklus ekonomi subsisten ini adalah kunci Haming bertahan hidup. Dari pinang yang dipetik di lereng gunung, tumbuh harapan agar sawahnya tetap menghijau. Apa yang diperoleh hari ini tidak pernah dihabiskan untuk hari ini saja.

​Di luar urusan kebun, Haming tak segan menguras keringat sebagai buruh pikul beras di pagi buta. Karung demi karung seberat puluhan kilogram diangkat dan disusun mengandalkan sisa-sisa tenaga di pundaknya. Tidak ada kata gengsi. Selama halal dan menghasilkan, pantang baginya untuk menolak pekerjaan.

​Ketelitiannya dalam mengelola jerih payah juga terlihat dari caranya beternak. Saat dua ekor sapinya terjual, uang tersebut tidak menguap menjadi barang konsumtif. Ia memutarnya kembali menjadi modal, membeli empat ekor anak sapi baru untuk dibesarkan.

​Hari-hari Bapak Haming adalah sebuah orkestra perjuangan yang saling menopang; dari pohon pinang ke sawah, dari buruh pikul ke peternakan sapi.

​Di sudut sunyi Kampung Bakka, kerja keras itu berdenyut tanpa sorot kamera atau panggung kemewahan. Melalui langkah kakinya yang berat menembus hutan, Haming mengajarkan ketekunan luar biasa: bahwa seseorang harus terus bekerja keras hari ini, agar esok masih ada harapan yang bisa dibawa pulang ke meja makan.