responcom.id-Di saat mahasiswa lain menyerah setelah naskah penelitiannya ditolak jurnal nasional, Kenedi Pratama justru mengulangnya lagi. Dan kali ini, hasilnya berbeda: penelitiannya tembus di jurnal nasional terakreditasi SINTA 3.Kisahnya layak menjadi catatan, terutama karena penelitian itu ditulis di tengah tumpukan tugasnya sebagai Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Akuntansi (HIMASI) Universitas Ekasakti. Dua kali ditolak, dua kali ia duduk lagi di depan layar untuk merevisi — bukan menyerah.
Penelitian yang Menguji 47 Perusahaan
Riset Kenedi yang akhirnya lolos ke Jurnal Ekonomi Bisnis, Manajemen dan Akuntansi (Jebma) itu menguji pertanyaan tajam: apakah ukuran dewan komisaris dan umur perusahaan menjadi mitigasi — atau justru pemicu — audit report lag?Penelitian berjudul “Ukuran Dewan Komisaris dan Umur Perusahaan Sebagai Mitigasi atau Pemicu Audit Report Lag?” itu mengolah data 47 perusahaan sektor barang konsumen primer yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).Hasilnya, penelitian yang menempatkan Kenedi sebagai penulis pertama ini membuktikan bahwa tata kelola perusahaan yang kuat berperan mempercepat proses audit. Temuan itu bukan sekadar akademis, melainkan memiliki relevansi langsung bagi praktik akuntansi dan audit di Indonesia.
Penolakan Bukan Akhir, Tapi Proses
Perjalanan menuju penerimaan itu tidak mulus. Naskah Kenedi sempat ditolak dua kali oleh jurnal yang sama. Di tengah jadwalnya yang padat — memimpin HIMASI, mengikuti lomba esai, hingga menjadi narasumber di forum tingkat nasional — ia tetap menyempatkan diri merevisi naskahnya bagian demi bagian.”Bagi saya, penolakan bukan akhir. Itu bagian dari proses,” kata Kenedi. Prinsip inilah yang ia jalankan konsisten: setiap revisi dari para penelaah ia anggap sebagai peta perbaikan, bukan vonis kegagalan.Catatan prestasi Kenedi pun tidak berhenti di jurnal. Ia tercatat sebagai Mahasiswa Berprestasi Utama Universitas Ekasakti dan masuk Top 5 Mahasiswa Berprestasi Tingkat Wilayah LLDIKTI X. Di ranah kepenulisan, ia meraih Juara 3 dan Juara 2 Lomba Esai. Pengalaman menjadi narasumber di forum tingkat nasional juga ia raih sembari tetap menjabat Ketua Umum HIMASI.
Ora et Labora: Doa dan Kerja
Di balik semua capaian itu, ada satu prinsip sederhana yang dipegang Kenedi sejak lama: “Ora et Labora” berdoa dan bekerja.Baginya, prinsip itulah pegangan setiap kali tantangan datang, termasuk saat naskahnya ditolak jurnal untuk kedua kalinya. Doa menjaga ketenangan pikiran, dan kerja memastikan hasil datang.Kisah Kenedi menjadi pengingat bagi mahasiswa manapun: publikasi ilmiah bukanlah milik mereka yang tak punya kesibukan, tetapi milik mereka yang tak berhenti mencoba. Dua kali gagal, dan pada kesempatan ketiga, namanya kini terpampang sebagai penulis pertama di jurnal nasional terakreditasi SINTA 3.

Tinggalkan Balasan