PALOPO, responcom.id – Ada pemandangan yang tak biasa namun penuh haru setiap kali Universitas Mega Buana (UMB) Palopo menggelar prosesi wisuda. Di saat institusi pendidikan lain berlomba memamerkan kemewahan, ratusan wisudawan kampus ini justru memilih merapat ke jalanan, menaiki becak menuju gedung acara.
Pemandangan ikonis nan membumi ini kembali tersaji saat UMB Palopo menggelar Wisuda Angkatan XVII Periode III Tahun 2026 di Saodenrae Convention Center, Selasa (28/7/2026).
Sebanyak 578 lulusan resmi menyandang gelar Sarjana Kebidanan. Mereka diarak menggunakan moda transportasi tradisional, menyusuri jalanan Kota Palopo dengan balutan toga kebanggaan yang berkibar ditiup angin.
Rektor UMB Palopo, Prof. Dr. Hj. Nilawati Uly, S.Si., Apt., M.Kes., CIPA., memimpin langsung prosesi sakral tersebut. Dalam sambutannya, ia tak kuasa menyembunyikan rasa syukur atas perjalanan panjang institusi yang dipimpinnya.
Sang Rektor bernostalgia ke masa-masa awal berdirinya kampus pada tahun 2010 silam. Sebuah perjalanan yang dimulai dari langkah kecil, hingga kini bertransformasi menjadi salah satu raksasa pencetak tenaga kesehatan di Indonesia.
”Alhamdulillah, dari awal berdiri pada tahun 2010 yang saat itu hanya meluluskan 30 orang, kini UMB Palopo telah mencetak ribuan alumni. Lulusan kami kini telah tersebar dan mengabdi di 179 daerah di seluruh pelosok Nusantara. Tentu ini menjadi kesyukuran besar bagi kita semua,” ungkap Prof. Nilawati dengan bangga.
Kehadiran ratusan becak dalam prosesi wisuda UMB Palopo rupanya bukan sekadar aksi teatrikal, ajang pamer, atau strategi promosi kampus murahan. Ada filosofi mendalam yang urat nadinya bersentuhan langsung dengan denyut kehidupan masyarakat bawah.
Tradisi ini dirintis sejak wisuda perdana UMB Palopo pada 16 tahun silam. Saat itu, kampus baru saja meluluskan 30 mahasiswa perdananya dari program studi S1 Ilmu Keperawatan, D4 Bidan Pendidik, dan S1 Kesehatan Masyarakat.
Sebagai pendatang baru di dunia pendidikan Palopo kala itu, pihak kampus ingin menanamkan fondasi karakter yang kuat kepada para alumninya sejak hari pertama mereka memegang ijazah. Karakter fundamental tersebut adalah kepekaan sosial.
Melalui tradisi menaiki becak, UMB Palopo ingin memastikan bahwa hari bahagia para mahasiswanya tidak hanya dirayakan secara eksklusif di dalam gedung mewah nan dingin. Kebahagiaan itu harus meluber ke jalan raya dan dirasakan oleh warga sekitar.
Kampus secara cerdas menciptakan multiplier effect atau dampak ekonomi ganda yang nyata. Para tukang becak, yang merupakan urat nadi ekonomi riil masyarakat kecil, turut merasakan cipratan rezeki langsung dari momen perayaan akademik ini.
Di tengah gerusan zaman dan maraknya transportasi daring (online), becak-becak tua di Palopo yang perlahan terpinggirkan, kembali menjadi “raja jalanan” yang dihormati di hari wisuda tersebut.
tradisi yang dipertahankan UMB Palopo ini adalah sebuah oase. Di saat pendidikan tinggi kerap terjebak pada elitisme “menara gading”, UMB justru mengajarkan mahasiswanya untuk tetap membumi.
Tradisi ini bukan lagi sekadar mengukur sejauh mana becak mengantar para sarjana baru. Ini adalah ruang untuk merawat ingatan kolektif dan rasa hormat kepada mereka yang selama ini mungkin luput dari pandangan.
Setiap peluh yang menetes dan kayuhan pedal becak menuju gedung wisuda adalah pesan sunyi yang membekas kuat. Sebuah pesan pengingat bagi para Sarjana Kebidanan yang kelak akan melayani nyawa manusia: bahwa setinggi apa pun gelar diraih dan sejauh mana langkah mengabdi, mereka tidak boleh lupa untuk selalu merangkul kaum pinggiran yang tengah berjuang.

Tinggalkan Balasan