Responinfo.com- sepak bola Indonesia hari ini berkabung. Salah satu putra terbaiknya, legenda hidup sekaligus mantan pelatih Tim Nasional Indonesia, Moch Basri (M. Basri), telah menghembuskan napas terakhirnya.

​Sosok yang akrab disapa Tetta Daeng Tuju ini berpulang pada hari ini, Kamis (23/7/2026) pukul 04.52 WIB di Rumah Sakit Darmo, Surabaya, pada usia 83 tahun. Kepergiannya bukan sekadar kehilangan bagi keluarga, melainkan hilangnya salah satu pondasi penting yang membentuk sejarah panjang sepak bola nasional selama lebih dari tiga dekade.

kita sering melihat pelatih datang dan pergi seiring pergantian musim. Namun, rekam jejak M. Basri membuktikan bahwa ia adalah anomali. Ia bukan sekadar pelatih taktik; ia adalah pembina talenta, pemain bermental juara, dan saksi hidup pasang surutnya kompetisi Tanah Air.

​Berikut adalah catatan sejarah perjalanan sang legenda yang patut kita kenang.

Berawal dari Darah Juku Eja

Sebelum dikenal sebagai pelatih bertangan dingin, M. Basri adalah bintang di atas lapangan. Kariernya sebagai pemain lahir dan besar bersama klub tanah kelahirannya, PSM Makassar.

​Bersama panji Juku Eja, ia sukses mempersembahkan dua gelar juara Kompetisi Perserikatan secara beruntun pada musim 1964–1965 dan 1965–1966. Penampilannya yang konsisten dan ngotot di lapangan tengah membawanya menembus skuad Tim Nasional Indonesia, mewakili negara di berbagai turnamen internasional sepanjang era 1960-an.

Raja Galatama & Pengabdian di Timnas

​Transisi dari pemain hebat menjadi pelatih sukses adalah kutukan bagi banyak legenda sepak bola, namun tidak bagi M. Basri. Saat duduk di kursi kepelatihan, namanya justru semakin melegenda.

​Menaklukkan Jawa Timur: Ia membawa Persebaya Surabaya menjuarai Perserikatan pada tahun 1977.

​Mendominasi Galatama: Ia adalah otak di balik kejayaan Niac Mitra, merajai kompetisi semi-profesional Galatama dengan merebut gelar juara pada tahun 1981, 1982, dan 1986. Ia juga sempat menukangi Arema Malang dan Mitra Surabaya.

Panggilan Negara: Rentetan prestasi domestik itu memaksa PSSI memanggilnya. M. Basri dipercaya menangani Timnas Indonesia pada dua periode krusial, yakni 1983 (Pra Olimpiade) dan 1989 (SEA Games).

Romantisme 1995: Membangkitkan Raksasa Tidur

Bagi publik Makassar, memori paling membekas dari M. Basri mungkin terjadi pada tahun 1995. Di tengah menurunnya performa PSM pada musim perdana Liga Indonesia, manajemen klub di bawah komando Nurdin Halid memanggil pulang sang legenda untuk mengembalikan kejayaan Juku Eja.

​M. Basri menjawab tantangan itu dengan elegan. Ia meracik skuad yang memadukan talenta lokal Makassar dengan legiun asing legendaris dari Brasil: Marcio Novo, Luciano Leandro, dan Jacksen F. Tiago.

​Di bawah arahannya, PSM tampil beringas dan menembus partai final Liga Indonesia 1995–1996. Meski di laga puncak mereka harus mengakui keunggulan Mastrans Bandung Raya 0-2 di Stadion Gelora Bung Karno, gaya permainan atraktif PSM saat itu sukses mencuri hati publik sepak bola nasional.

​”Om Basri telah membuat kami bangga. Meski tidak juara, tim PSM tampil atraktif dengan materi mayoritas pemain asli Makassar.”Andi “Coklat”, Pentolan Suporter PSM.