PANGKEP,Responinfo.com- Pernah dengar istilah “pasukan besar, tapi salah strategi”? Sayangnya, ungkapan ini sepertinya pas untuk menggambarkan kiprah Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) di ajang Pekan Olahraga, Seni, dan Pembelajaran (Porsenijar) PGRI Sulawesi Selatan 2026.

​Berangkat ke Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) pada 2–6 Juli lalu, kontingen Pangkep datang dengan dada membusung dan optimisme selangit. Bagaimana tidak? Pangkep mengerahkan rombongan super besar yang jumlahnya mencapai sekitar 2.500 orang! Rombongan ini campur aduk, mulai dari atlet, peserta seni, ofisial, sampai Tim Hore.

​Target yang dipasang pun tidak main-main. Sejak awal, PGRI Pangkep menargetkan bisa tembus lima besar, bahkan sempat bermimpi membawa pulang piala juara umum. Namun, realita di lapangan ternyata tidak seindah angan-angan.

​Biar Anda tidak pusing baca rentetan angka, ini tiga fakta utama dari hasil Porsenijar PGRI Sulsel 2026 yang wajib Anda tahu:

​Cuma Bawa 2 Perunggu: Ya, Anda tidak salah baca. Dari sekian banyak cabang yang diikuti, Pangkep gagal total mendapatkan medali emas maupun perak. Kontingen kita hanya mampu membawa pulang dua keping medali perunggu.

​Nongkrong di Posisi Bawah: Hasil minim ini langsung menghempaskan Pangkep ke dasar klasemen. Pangkep finis di peringkat ke-23 dari total 24 kabupaten/kota yang ikut serta. Nyaris juru kunci.

​Tuan Rumah Berpesta: Berbanding terbalik dengan Pangkep, Sidrap sukses mengamankan gelar Juara Umum dengan 4 emas, 3 perak, dan 5 perunggu. Disusul Kota Makassar (3 emas, 2 perak, 4 perunggu) dan Kabupaten Barru (3 emas, 2 perak, 2 perunggu).

Finis di Posisi Hampir Juru kunci ini langsung memicu sorotan tajam dari berbagai pihak. Banyak yang geleng-geleng kepala melihat jumlah peserta dengan prestasi yang diraih. Rombongan 2.500 orang nyatanya belum berbanding lurus dengan jumlah medali yang dibawa pulang.

​Ini tentu menjadi tamparan keras sekaligus pekerjaan rumah (PR) besar buat semua pemangku kepentingan. Mulai dari pengurus PGRI Kabupaten Pangkep, Dinas Pendidikan, pihak sekolah, hingga jajaran pelatih. Membawa rombongan besar memang bagus untuk ajang silaturahmi, tapi jika bicara kompetisi, kualitas pembinaan jelas jauh lebih penting daripada sekadar unjuk kuantitas massa.

​Kalau Pangkep tidak mau terus-terusan jadi “Tim Hore” dan langganan papan bawah di Porsenijar berikutnya, ada beberapa perombakan krusial yang harus segera dieksekusi:

​Seleksi Ketat & Objektif: Jangan ada lagi istilah “titipan” atau asal tunjuk. Pemilihan atlet maupun peserta lomba seni dan pembelajaran harus murni berdasarkan potensi. Sekolah yang punya bakat unggul harus didorong maju.

​Pemetaan Cabang Andalan: Kita harus realistis. Tidak semua cabang bisa kita kuasai. Mulai sekarang, petakan cabang mana yang paling berpeluang mendulang emas, lalu fokuskan pembinaan di sana jauh-jauh hari.

​Upgrade Pelatih & Uji Tanding: Punya atlet bagus tapi kurang jam terbang sama saja bohong. Pangkep butuh peningkatan kualitas pelatih, penyediaan fasilitas latihan yang memadai, dan simulasi tanding (try out) agar mental peserta terasah sebelum laga sesungguhnya.

​Kegagalan kali ini memang pahit, tapi bukan berarti berakhir. Anggap saja ini momentum untuk “cuci gudang” dan memperbaiki sistem pembinaan dari akar. Dengan perencanaan yang matang dan fokus pada talenta unggulan daerah, kontingen pendidik Pangkep pasti bisa bangkit dan kembali disegani di perhelatan Porsenijar PGRI Sulawesi Selatan yang akan datang.