Kapolda Sulawesi Selatan, Djuhandhani Rahardjo Puro, memastikan Bripda Dirja Pratama alias DP (19) meninggal dunia akibat penganiayaan yang dilakukan oleh seniornya.
Penegasan tersebut disampaikan Djuhandhani usai menghadiri prosesi pemakaman korban di Kabupaten Pinrang, Senin (23/2/2026). Ia menyatakan penanganan perkara dilakukan secara profesional dan transparan sejak laporan awal diterima.
Djuhandhani mengungkapkan, laporan pertama yang diterima menyebut korban meninggal dunia akibat membentur-benturkan kepalanya sendiri. Namun, informasi tersebut dinilai janggal dan tidak langsung dipercaya oleh penyidik.
“Laporan awal yang kami terima yang bersangkutan meninggal karena membentur-benturkan kepala,” kata Djuhandhani.
Meski demikian, pihaknya tidak serta-merta menerima keterangan tersebut tanpa pembuktian ilmiah.
“Namun kita tidak percaya begitu saja. Kami langsung mengecek kebenaran tersebut,” tegasnya.
Proses pembuktian dilakukan melalui pemeriksaan medis dan forensik. Hasil pemeriksaan Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) menemukan sejumlah luka lebam di tubuh korban.
“Secara scientific kami buktikan apa yang disampaikan oleh anggota yang menyampaikan dia membentur-benturkan kepalanya itu tidak benar,” ungkapnya.
Temuan luka lebam tersebut memperkuat dugaan bahwa korban mengalami tindak kekerasan.
“Kemudian setelah kita melaksanakan upaya pemeriksaan oleh Biddokkes kita temukan beberapa yang lebam. Kemudian kita yakini itu adalah penganiayaan,” jelas Djuhandhani.
Ia menyebut pengungkapan kasus ini merupakan hasil kerja bersama Bid Propam dan Ditreskrimum Polda Sulsel yang bekerja secara simultan.
“Saat ini kami sudah mengamankan satu orang tersangka sesuai dengan pengakuan yang dilakukan,” tandasnya.
Meski satu tersangka telah ditetapkan, Kapolda menegaskan penyidikan masih terus berjalan untuk mendalami kemungkinan adanya pelaku lain.
“Namun kita tidak percaya begitu saja, karena kami masih melihat keterlibatan pelaku lainnya,” ujarnya.
Beberapa jam sebelum kabar duka diterima, korban masih sempat berkomunikasi dengan ibunya sekitar pukul 05.00 Wita. Namun sekitar pukul 07.00–08.00 Wita, keluarga mendapat kabar bahwa Bripda Dirja Pratama telah meninggal dunia.
Ayah korban, Aipda Muhammad Jabir, menegaskan putranya tidak memiliki riwayat penyakit.
“Nda pernah sakit dia. Baku kontak dengan ibunya subuh jam lima, saat dibalas chatnya sudah tidak ada jawaban,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan kondisi korban saat berada di rumah sakit menimbulkan tanda tanya bagi keluarga, karena darah disebut terus keluar dari mulut korban.
“Tidak ada luka di kepala, tidak ada. Kalau memang murni dipukul kepala kan pasti ada luka di kepala, ini darah keluar terus di mulut,” tegasnya.
Keluarga memastikan akan menempuh jalur hukum demi mengungkap kebenaran atas kematian Bripda Dirja Pratama.
“Kami akan proses minta keadilan. Apabila ada penganiayaan, kami serahkan ke penyidik Polda untuk mengungkap tuntas siapa pelakunya,” ucapnya.
Korban diketahui tidak tidur di barak saat kejadian, melainkan berada di kamar danton dan ditemukan tergeletak di ruangan tersebut. Dari pemeriksaan awal keluarga, ditemukan sejumlah luka memar di bagian perut, dada, dan leher.
Hingga kini, proses autopsi dan pendalaman kasus masih terus berlangsung untuk memastikan seluruh fakta terungkap secara menyeluruh dan transparan.

Tinggalkan Balasan